
Fertilitas atau kesuburan merupakan ukuran kemampuan pria atau wanita untuk memiliki keturunan. Masalah kesuburan menjadi topik yang sensitif karena dapat berdampak pada emosi dan kondisi psikologis wanita maupun pria yang dapat mengganggu hubungannya dalam berkeluarga.
Kesuburan wanita menjadi lebih penting karena menjadi tempat terjadinya masa pembuahan dan kandungan. Dilansir dari situs Knoema.com, angka kesuburan Indonesia turun secara bertahap dari 5,41 anak per wanita pada tahun 1971 menjadi 2,27 anak per wanita pada tahun 2020.
Baca Juga: Penyebab Infertilitas Pada Wanita yang Penting Anda Ketahui
Banyak hal yang menjadi penyebab terganggunya tingkat kesuburan yang seringkali terjadi pada wanita. Terlepas dari pengaruh genetik, Indarwati, I., et al dalam jurnal Analysis of Factors Influencing Female Infertility mengemukakan bahwa infertilitas atau ketidaksuburan pada wanita dipengaruhi oleh :
Obesitas merupakan salah satu tanda body mass index yang tidak normal. Menurut World Health Organization (WHO), jika indeks massa tubuh sama dengan atau lebih besar dari 30 kg/m2 dianggap sebagai obesitas. Sedangkan orang dengan kelebihan berat badan memiliki indeks massa tubuh sama dengan atau lebih besar dari 25 kg/m2.
Klasifikasi BMI berdasarkan WHO:
Hasil studi Jorge Chavarro dari Harvard School of Public Health (HSPH), menemukan bahwa pria yang kelebihan berat badan dan obesitas lebih mungkin menghasilkan sperma dalam jumlah yang lebih rendah atau bahkan tidak sama sekali dari pria dengan berat badan normal. Dimana pria yang obesitas 42% memiliki jumlah sperma lebih rendah daripada pria dengan berat normal dan 81% tidak menghasilkan sperma. Meskipun hasil penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa kelebihan berat badan menyebabkan masalah kesuburan, namun jumlah sperma yang lebih rendah dapat membuat pria lebih sulit untuk memberikan keturunan.
Sedangkan pada wanita, dilansir dari jurnal Impact of obesity on infertility in women, Dağ, Z. Ö., & Dilbaz, B. menjelaskan bahwa obesitas seringkali menjadi resiko timbulnya masalah kesehatan, diantaranya:
Dalam beberapa penelitian, resiko infertilitas (ketidaksuburan) tiga kali lebih tinggi pada wanita obesitas dibandingkan wanita non-obesitas. Dimana terbukti bahwa probabilitas kehamilan berkurang 5% per unit BMI yang melebihi 29 kg/m2.
Pada wanita obesitas terjadi peningkatan dan penurunan beberapa hormon yang menyebabkan terpengaruhnya hormon reproduksi. Seperti sekresi gonadotropin yang berperan penting dalam kesuburan serta memburuknya neuroregulasi aksis Hipotalamus-Hipofisis-Gonad (HPG). Perubahan ini menyebabkan terjadinya gangguan fungsi ovulasi dan kesehatan reproduksi. Meskipun dalam beberapa kasus ditemukan adanya kehamilan pada wanita obesitas, namun peluang untuk melahirkan bayi yang sehat menjadi lebih rendah.
Obesitas dapat menyebabkan infertilitas dari beberapa hal, seperti :
Meskipun belum terdapat hasil penelitian yang konsisten, penyebab infertilitas yang terbanyak adalah anovulasi yang merupakan keadaan sel telur (ovum) yang tidak matang karena Hormone androgen yang diproduksi dari sel lemak yang berlebihan pada pasien yang obesitas (kelainan endokrin). Kelainan pada sistem endokrin menyebabkan terganggunya fungsi beberapa kelenjar, termasuk kelenjar reproduksi.
Efek negatif dari obesitas terhadap infertilitas terlihat jelas dari adanya anovulasi yang ditunjukkan dalam beberapa hasil penelitian. Dalam jurnal Impact of obesity on female reproductive health: British fertility society, policy and practice guidelines, Balen, A. H., et al menyebutkan bahwa dengan menurunkan setidaknya 5–10% dari berat badan dapat membantu memulihkan kesuburan dan meningkatkan metabolisme. Dengan demikian, perhatian pada pola makan yang teratur dan olahraga yang seimbang diperlukan untuk mengurangi resiko obesitas yang dapat mempengaruhi kesuburan.
Adipokin adalah sitokin yang terutama disekresi oleh adiposit. Sebagian adipokin adalah leptin, adiponektin, resistin, visfatin, omentin, dan ghrelin. Adipokin adalah molekul pensinyalan (hormon), dan abnormalitas pada adipokin akan menyebabkan inflamasi dan gangguan sinyalir sel sehingga dapat terjadi gangguan metabolisme dan fungsi sel. Jaringan adiposa berlebih pada wanita akan menyebabkan perburukan polycystic ovarian syndrome (PCOS) dan anovulasi sehingga dapat menyebabkan hipogonadisme hipotalamik. Kadar adipokin abnormal berkaitan dengan resistensi insulin dan diabetes melitus tipe 2.
Obesitas berkaitan dengan kadar leptin tinggi dalam serum dan cairan folikuler. Leptin mencegah steroidogenesis ovarium yang bersifat terinduksi-insulin dengan bekerja pada reseptor sel theca dan granulosa. Leptin juga mencegah produksi estradiol terstimulasi-LH oleh sel granulosa. Efek leptin yang lainnya pada fungsi reproduktif adalah meregulasi pembelahan dan perkembangan embrio awal.
Adipokin lainnya, visfatin, disekresi oleh beberapa tipe sel dan jaringan, termasuk jaringan adiposa dan adiposit, sumsum tulang, limfosit, otot, hati, trofoblas, dan membran janin. Visfatin memiliki efek menyerupai insulin, meningkatkan ambilan glukosa pada adiposit dan sel otot dan menurunkan pelepasan glukosa dari hepatosit. Chemerin adalah adipokin lainnya yang mempengaruhi adiposit dan metabolisme glukosa. Chemerin juga mengganggu steroidogenesis folikuler terinduksi-FSH sehingga memiliki peranan dalam patogenesis PCOS.
Pada wanita dengan obesitas ditemukan penurunan jumlah oosit dan tingkat kegagalan fertilitas yang lebih tinggi. Mekanisme potensial dari kerusakan organel-organel oosit adalah lipotoksisitas. Kelebihan asam lemak yang diperoleh dari makanan akan disimpan sebagai trigliserida dalam sel adiposit, sehingga tidak menyebabkan kerusakan seluler dalam kompartemen penyimpanan ini. Namun, ketika kapasitas ini terlalu penuh, asam lemak akan menumpuk di jaringan lain dan mengakibatkan efek toksik, yang disebut lipotoksisitas. Wanita dengan berat badan berlebihan memiliki kadar asam lemak bebas sirkulasi yang lebih tinggi sehingga terjadi kerusakan sel-sel nonadiposa akibat dari peningkatan spesies oksigen reaktif (ROS) yang menyebabkan tekanan pada mitokondria dan ER yang mencetuskan apoptosis. Lipotoksisitas juga diketahui mempunyai peran dalam perkembangan resistensi insulin dan peningkatan reaksi inflamasi pada wanita yang obesitas.
Jalur inflamasi sangat penting dalam peristiwa reproduksi seperti rupturnya folikel pada saat ovulasi dan invasi trofoblas ke dalam jaringan endometrium. Wanita dengan obesitas dianggap memiliki tingkat inflamasi kronis yang rendah. Jaringan adiposa adalah organ endokrin yang memproduksi banyak adipokin proinflamasi, termasuk leptin, tumor necrosis factor a, dan interleukin 6 (IL-6). Wanita yang obesitas memiliki tingkat sirkulasi adipokin antiinflamasi penting (adiponektin) yang lebih rendah.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa leptin dapat mempengaruhi jalur steroidgenik pada sel-sel granulosa, menurunkan produksi estrogen dan progesteron dalam dose-dependent manner. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh downstream pada perlekatan endometrial dan implantasi embrio. Hal itu juga menunjukkan bahwa obesitas dapat mengganggu desudialisasi endometrial, yang merupakan tahap penting dalam perlekatan uterus. Selain itu, obesitas juga dapat mengurangi tempat implantasi dan menurunkan respons terhadap stimulasi hormonal pada sel-sel stroma di endometrium. Defek terhadap desidualisasi endometrium dapat berkontribusi terhadap perlekatan endometrium dan implantasi yang buruk.
Wanita dengan obesitas cenderung memiliki embrio dengan kualitas yang buruk. Pada wanita yang obesitas, embrio yang ditemukan biasanya tidak berkembang setelah mengalami pembuahan, dan bila berkembang, embrio tersebut akan mencapai tahap morula yang lebih cepat dari normalnya. Embrio jugabersifat rentan terhadap liptoksisitas seperti yang telah dibahas sebelumnya mengenai oosit. Selain bekerja secara sentral, kadar leptin yang meningkat pada wanita yang obesitas dapat memberikan efek negatif secara langsung pada embrio yang sedang berkembang. Secara in vitro, leptin memiliki efek stimulasi pada pertumbuhan sel induk trofoblastik manusia, dan penghambatan terhadap leptin dapat menurunkan proliferasi dan secara dramatis meningkatkan apoptosis.
Peningkatan BMI pada pria berhubungan dengan penurunan konsentrasi testosteron dalam plasma yang terjadi bersamaan dengan peningkatan konsentrasi estrogen. Penurunan testosteron dan peningkatan estrogen memiliki hubungan dengan subfertilitas dan penurunan jumlah sperma dengan cara mengganggu lingkaran feedback negatif dari aksis hipotalamus-hipofisis-gonadal (HPG). Diketahui bahwa pada pria yang obesitas, baik kadar hormon estrone dan estradiol akan meningkat akibat dari peningkatan aromatisasi androgen perifer. Estrogen memiliki dampak negatif terhadap hipotalamus, yaitu dengan cara mengubah sekresi hormon pelepas gonadotropin (GnRH) sehingga terjadi penekanan sekresi FSH dan LH gonadotropin.
Proses spermatogenesis sangat sensitif terhadap panas, dengan suhu optimal pada manusia berkisar antara 34-35 ° C. Temperatur yang meningkat di dalam skrotum akibat jaringan lemak, dapat merusak sel sperma. Dampak buruk dari panas diketahui memiliki keterkaitan dengan penurunan motilitas sperma, peningkatan fragmentasi DNA sperma, dan peningkatan stres oksidatif sperma. Pengangkatan lemak skrotum secara operasi dilaporkan dapat meningkatkan parameter sperma.
Hiperinsulinemia dan hiperglikemia merupakan kejadian yang umum terjadi pada individu dengan obesitas. Hiperinsulinemia dan hiperglikemia telah terbukti memiliki efek inhibisi pada kuantitas dan kualitas sperma sehingga dapat mengakibatkan penurunan kesuburan pada laki-laki dengan berat badan berlebih.
Leptin terutama diproduksi oleh sel-sel lemak dan dapat merusak sel sperma atau sel Leydig. Leptin dapat menambah sekresi hormon gonadotropin, yang merupakan aspek penting dalam menginisiasi dan pemeliharaan fungsi reproduksi normal melalui aktivitas sentral di hipotalamus yang mengatur GnRH, aktivitas dan sekresi neuron. Peningkatan kadar leptin secara signifikan dapat mengurangi produksi testosteron dari sel Leydig.
Laki-laki dengan obesitas umumnya memiliki gumpalan lemak yang berlebihan di daerah suprapubik dan paha bagian dalam. Lemak ini dapat menyebabkan peradangan mekanis pada isi skrotum, termasuk epididimitis, melalui gesekan yang terjadi selama aktivitas fisik. Peradangan epididimis dapat mempengaruhi fungsi epididimis, dengan mengubah lingkungan dalam epididimis sehingga mempengaruhi pematangan sperma, dan kemampuan pembuahan.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa 52 wanita dengan obesitas dan infertilitas dirujuk ke konseling penurunan berat badan dengan tujuan penurunan berat badan sebanyak 10%. Sebanyak 32% pasien mencapai target penurunan berat badan, dan pada pasien tersebut ditemukan tingkat konsepsi dan tingkat kelahiran hidup (LBR) yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang tidak dapat mencapai target penurunan berat badan. Dalam sebuah penelitian randomized controlled trial (RCT) dari 49 wanita dengan obesitas yang menjalani pengobatan kesuburan, dilakukan intervensi gaya hidup secara intensif selama 12 minggu dan didapatkan hasil penurunan berat badan rata-rata sebesar 6,6 kg dan tingkat kelahiran hidup yang secara signifikan lebih tinggi.
Aktivitas fisik telah terbukti dapat mengurangi jumlah mediator inflamasi sistemik, sehingga berkontribusi dalam peningkatan kesuburan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat kehamilan dan kelahiran hidup secara signifikan lebih tinggi pada kelompok teratur melakukan aktivitas fisik teratur dibandingkan dengan kelompok yang kurang teratur.
Kesuburan tidak hanya dipengaruhi oleh asupan kalori berlebih, tetapi juga oleh pendistribusian kalori tersebut pada seluruh kelompok makanan. Penelitian sebelumnya menemukan manfaat terapeutik potensial dari diet ‘Mediterania’, yang ditandai dengan asupan lemak tak jenuh yang lebih tinggi, asupan lemak hewani yang lebih rendah, dan rasio asam lemak omega-6 hingga omega-3 yang lebih rendah.
Ketaatan pada diet Mediterania selama 2 tahun pada pasien dengan sindrom metabolik secara signifikan dapat menurunkan resistensi insulin dan konsentrasi serum penanda inflamasi, termasuk CRP dan IL-6. Studi lain juga menemukan pola diet berbeda yang terbukti menurunkan risiko infertilitas ovulasi yang disebut “diet kesuburan: yang ditandai dengan lebih sedikit konsumsi lemak trans dan protein hewani, serta meningkatkan konsumsi karbohidrat dengan indeks glikemik yang rendah, susu tinggi lemak, dan multivitamin.
Baca Juga: 5 Pilihan Pengobatan PCOS yang Dapat Dilakukan
Ingin mendapatkan momongan? segera konsultasi ke dokter spesialis fertilitas seperti Dokter Arie Polim untuk mencari solusi fertilitas terbaik Jangan sungkan langsung menjadwalkan konsultasi sekarang di sini!