

Bagi sebagian pasangan yang sulit memiliki keturunan, program bayi tabung bisa menjadi pilihan untuk bisa hamil. Promil ini menawarkan peluang keberhasilan hampir mencapai 50%, meski terbilang tidak murah dan cukup memakan waktu.
Sebelum memutuskan untuk menjalani proses IVF, ada baiknya Anda dan pasangan mengetahui terlebih dahulu proses bayi tabung dari awal sampai akhir berikut ini.
In Vitro Fertilization (IVF) atau biasa dikenal sebagai bayi tabung adalah prosedur penggabungan sperma dan sel telur agar terjadi pembuahan di luar tubuh, tepatnya di laboratorium. Setelah pembuahan terjadi, embrio yang terbentuk akan dipindahkan ke rahim wanita untuk pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut (kehamilan).
IVF adalah perawatan untuk infertilitas, ini bisa dilakukan jika Anda belum dapat hamil setelah setidaknya satu tahun mencoba secara alami.
Meski demikian, Anda dan pasangan perlu berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter kandungan terkait solusi atau perawatan infertilitas yang tepat sesuai dengan kondisi masing-masing.
Baca juga: Tingkatkan Keberhasilan, Lakukan Persiapan Ini Sebelum Program Bayi Tabung
Sebelum mulai IVF, dokter akan menjelaskan terkait prosedur, termasuk risiko dan manfaatnya.
Berikut ini tahapan program bayi tabung dari awal sampai akhir yang perlu diketahui:
dr. Arie A. Polim, Sp.OG (K) FER. mengungkapkan bahwa pemeriksaan kesehatan awal sangat penting agar proses bayi tabung berjalan baik.
“Program bayi tabung itu suatu rangkaian proses yang cukup memakan waktu bagi kedua pasangan. Dimulai dari pemeriksaan awal, untuk mengetahui kesiapan atau kelayakan kondisi suami dan istri, apakah ada sesuatu sehingga perlu tindakan terlebih dahulu atau tidak.”
Pada pria, perlu dilakukan pemeriksaan sperma, serta pemeriksaan darah untuk menyingkirkan adanya faktor infeksi.
Untuk wanita perlu ada pemeriksaan hormone profile, serta skrining adanya tanda infeksi melalui pemeriksaan darah, seperti hepatitis B, hepatitis C, HIV dan TORCH (Toxoplasma gondii, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex Virus).
Pemeriksaan ini bertujuan memastikan kondisi kesehatan secara keseluruhan, termasuk sel telur dan sperma yang sehat.
Jika kondisi suami istri sudah baik, program IVF bisa dimulai di hari ke-2 atau ke-3 menstruasi.
Saat mens, dokter akan melakukan USG pertama kali untuk melihat jumlah folikel di kedua ovarium atau indung telur. Hasil jumlah folikel ini yang menjadi dasar perhitungan dosis suntikan yang akan dipakai.
Pada tahap ini akan dilakukan stimulasi dengan suntikan hormon untuk membuat sel telur berkembang.
“Jadi, nanti akan ada suntikan yang diberikan setiap hari untuk memperbesar ukuran folikel, biasanya akan dievaluasi setiap 4 hari untuk melihat respons folikel. Pada hari ke-6 atau ke-7 akan di-USG lagi untuk melihat apakah kadar hormonnya sudah sesuai dengan dosis yang dipakai. Jika sudah sesuai, suntikan akan dilanjutkan sampai hari ke-9 atau ke-10, lalu akan dievaluasi ukuran folikel ovarium kanan dan kiri,” jelas dr. Arie Polim.
Jika folikel ovarium sudah mencapai minimal 16 atau 17 mm, folikel siap memasuki proses trigger atau dipecahkan menggunakan hormon hCG untuk persiapan pengambilan telur atau ovum pick up. Tahap ini dilakukan di hari ke-12 atau hingga ke-14.
Di saat pengambilan sel telur pada wanita dilakukan, si pria juga diminta untuk memberikan sampel sperma di ruangan tersendiri. Paling sering, sampel air mani yang mengandung sperma dikumpulkan melalui mastrubasi.
Namun, metode lain seperti aspirasi sperma testis atau operasi pengambilan sperma dari testis juga bisa dilakukan, jika tidak dapat berejakulasi melalui mastrubasi atau tidak ada sperma dalam air mani.
Selanjutnya, penggabungan sel telur dan sperma akan dilakukan di laboratorium dengan tujuan terjadi pembuahan dan terbentuk embrio.
Melansir Mayo Clinic, ada dua metode yang umum digunakan:
Setelah menjadi embrio, embrio tersebut akan dikembangkan selama 5 hari. Jika embrio berkembang bagus, bisa langsung dilakukan transfer embrio ke rahim di hari ke-5 atau ke-6.
Jika prosedur berhasil, embrio akan menempel pada lapisan rahim sekitar 6 hingga 10 hari setelah pengambilan sel telur. Dari sinilah bisa dilihat keberhasilan hamil atau tidaknya di 11 sampai 12 hari kemudian.
Baca juga: Apakah Ibu Hamil Boleh Puasa?
Itulah proses bayi tabung dari awal sampai akhir yang perlu Anda dan pasangan ketahui dan diskusikan lebih lanjut dengan dokter.
Metode bayi tabung biasanya membutuhkan waktu sekitar 3 hingga 6 minggu, mungkin bisa berbeda pada tiap pasangan.
“Meski memakan cukup waktu, perlu diingat bahwa program bayi tabung merupakan proses rawat jalan, bukan rawat inap, sehingga pasien tidak perlu cuti dari pekerjaannya, dan tetap bisa beraktivitas seperti biasa,” ujar dr. Arie Polim yang juga praktik di Morula IVF Jakarta. Masih ada pertanyaan seputar infertilitas maupun kehamilan? Jangan ragu berkonsultasi dengan dr. Arie Polim di sini.
NHS. 2025. IVF. https://www.nhs.uk/tests-and-treatments/ivf/. Diakses pada 26 Maret 2026.
Mayo Clinic. 2023. In Vitro Fertilization (IVF). https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/in-vitro-fertilization/about/pac-20384716. Diakses pada 26 Maret 2026.