
Mendengar kata “diabetes” saat hamil bisa langsung memicu kekhawatiran, apalagi kalau sebelumnya Anda tidak pernah punya riwayat gula darah tinggi.
Namun, kondisi ini sebenarnya cukup umum terjadi, biasa dikenal dengan diabetes getasional, dan bisa dikelola dengan baik, asalkan terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Artikel ini akan membahas apa itu diabetes gestasional, mengapa kondisi ini bisa muncul, gejala yang perlu diwaspadai, dampaknya pada ibu dan bayi, hingga cara mengontrol dan mencegahnya agar kehamilan tetap berjalan sehat.
Diabetes gestasional adalah kondisi gula darah tinggi yang pertama kali muncul selama kehamilan, pada orang yang sebelumnya tidak memiliki riwayat diabetes.
Menurut Cleveland Clinic, kondisi ini terjadi ketika hormon dari plasenta mengganggu kemampuan tubuh menggunakan atau memproduksi insulin, sehingga kadar glukosa dalam darah meningkat.
Diabetes gestasional berbeda dengan diabetes tipe 1 dan tipe 2 karena kondisi ini muncul akibat kehamilan, bukan penyakit yang sudah ada sebelum hamil.
Berbeda dengan diabetes tipe 1 yang berkaitan dengan gangguan autoimun sejak awal, atau tipe 2 yang biasanya berkembang bertahap akibat resistensi insulin kronis, diabetes gestasional murni dipicu oleh perubahan hormon selama kehamilan.
Kondisi ini umumnya baru terdeteksi di pertengahan masa kehamilan, tepatnya antara minggu ke-24 dan ke-28.
Cleveland Clinic mencatat bahwa sekitar 8 sampai 10 persen ibu hamil di Amerika Serikat mengalami diabetes gestasional, sementara angka rata-rata secara global berkisar antara 14 sampai 17 persen, tergantung pada faktor usia, etnis, dan akses layanan kesehatan.
Penyebab utama diabetes gestasional adalah perubahan hormon selama kehamilan.
Hormon yang diproduksi plasenta dapat mengganggu kerja insulin dalam mengatur kadar gula darah, kondisi yang dikenal sebagai resistensi insulin.
Pada sebagian ibu hamil, pankreas tidak mampu memproduksi cukup insulin untuk mengimbangi resistensi ini, sehingga kadar gula dalam darah pun naik.
Meski bisa dialami siapa saja, ada sejumlah faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami diabetes gestasional. Menurut CDC, faktor-faktor tersebut meliputi:
Faktor risiko ini tidak berarti seseorang pasti akan mengalami diabetes gestasional. Namun, semakin banyak faktor risiko yang dimiliki, semakin penting pemeriksaan gula darah dilakukan lebih dini selama kehamilan.
Salah satu tantangan diabetes gestasional adalah kondisi ini sering tidak menimbulkan gejala yang jelas.
Banyak ibu hamil baru mengetahui dirinya mengalami diabetes gestasional setelah menjalani pemeriksaan gula darah rutin, bukan karena merasakan keluhan tertentu.
Diabetes gestasional sering kali terdeteksi lewat pemeriksaan rutin kehamilan, bukan dari gejala yang dirasakan sendiri oleh ibu hamil.
Jika muncul, gejala yang dilaporkan umumnya meliputi:
MedlinePlus dari National Institutes of Health mencatat bahwa dua gejala terakhir ini memang lebih jarang disadari, tetapi tetap bisa menjadi sinyal tambahan yang perlu diperhatikan.
Gejala-gejala ini sayangnya mirip dengan keluhan umum kehamilan itu sendiri, sehingga mudah terlewat begitu saja.
Oleh karena itu, screening gula darah tetap menjadi cara paling andal untuk mendeteksi kondisi ini.
Umumnya, screening dilakukan pada usia kehamilan 24 sampai 28 minggu melalui pemeriksaan gula darah puasa dan gula darah setelah makan.
Ketika gula darah tidak terkontrol dengan baik, diabetes gestasional bisa menimbulkan sejumlah komplikasi, baik bagi ibu maupun bayi.
Meski begitu, penting diingat bahwa risiko ini bisa ditekan secara signifikan dengan penanganan yang tepat, dan sebagian besar bayi dari ibu dengan diabetes gestasional tetap lahir sehat.
Cleveland Clinic merangkum sejumlah dampak yang perlu diwaspadai bila kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan.
| Dampak pada Ibu | Dampak pada Bayi |
|---|---|
| Risiko preeklamsia atau tekanan darah tinggi selama kehamilan | Bayi lahir dengan berat badan berlebih (makrosomia) |
| Peluang lebih besar menjalani persalinan caesar | Gangguan pernapasan saat lahir |
| Risiko diabetes tipe 2 di kemudian hari | Gula darah rendah pada bayi setelah lahir |
| Risiko kelahiran prematur | |
| Risiko obesitas dan diabetes tipe 2 saat anak tumbuh besar |
Yang menarik, Cleveland Clinic mencatat bahwa sekitar 50 persen orang dengan diabetes gestasional berkembang menjadi diabetes tipe 2 di kemudian hari.
Angka ini menegaskan pentingnya pemeriksaan gula darah lanjutan setelah melahirkan, bukan berhenti begitu saja setelah bayi lahir.
Kabar baiknya, diabetes gestasional adalah kondisi yang bisa dikelola dengan baik melalui kombinasi pemantauan rutin, pola makan, dan aktivitas fisik. Berikut langkah-langkah yang bisa diterapkan begitu terdiagnosis.
Langkah pertama yang perlu dilakukan begitu terdiagnosis adalah memulai pemantauan gula darah mandiri di rumah menggunakan glukometer, biasanya diukur saat bangun tidur dan sekitar satu jam setelah makan.
Cleveland Clinic mencatat rentang target gula darah yang umum direkomendasikan American College of Obstetricians and Gynecologists sebagai berikut.
| Waktu Pengukuran | Target Gula Darah |
|---|---|
| Sebelum makan | Di bawah 95 mg/dL |
| Satu jam setelah makan | Di bawah 140 mg/dL |
| Dua jam setelah makan | Di bawah 120 mg/dL |
Angka di atas tetap perlu dikonfirmasi ke dokter kandungan karena target bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing ibu.
Pengaturan pola makan menjadi kunci utama pengendalian diabetes gestasional. Beberapa langkah yang bisa diterapkan meliputi:
Aktivitas fisik berperan penting karena membantu tubuh menggunakan glukosa lebih efektif.
Cleveland Clinic merekomendasikan sekitar 30 menit olahraga ringan tiga kali seminggu, seperti jalan kaki atau berenang, dengan catatan tetap dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu untuk memastikan aman bagi kondisi kehamilan masing-masing.
Pada sebagian ibu hamil, perubahan pola makan dan olahraga saja belum cukup untuk mengontrol gula darah.
Dalam kondisi ini, dokter bisa meresepkan insulin untuk membantu menstabilkan kadar gula darah selama kehamilan berlangsung.
Pemantauan berat badan dan pertumbuhan janin lewat USG tambahan juga biasanya dilakukan lebih rutin dibanding kehamilan tanpa diabetes gestasional.
Setelah melahirkan, pemeriksaan gula darah tetap perlu dilakukan sekitar 6 sampai 12 minggu pascapersalinan untuk memastikan kondisi ini benar-benar sudah kembali normal.
Mengingat risiko diabetes tipe 2 di kemudian hari cukup tinggi, menjaga pola makan sehat dan tetap aktif secara fisik setelah melahirkan juga sama pentingnya dengan penanganan selama kehamilan.