
Pencegahan primer endometriosis belum dapat ditetapkan karena etiologi endometriosis belum diketahui dengan pasti. Beberapa intervensi dapat mendukung penurunan progresivitas dan kekambuhan dari endometriosis:
Penatalaksanaan nyeri pada endometriosis merupakan salah satu aspek utama terapi, karena sebagian besar pasien mengalami gejala berupa nyeri haid, nyeri hubungan seksual, nyeri saat BAK dan BAB, serta nyeri panggul diluar menstruasi yang berpengaruh terhadap kualitas hidup, aktivitas harian, produktivitas, relasi personal, hingga fungsi seksual.
Endometriosis bersifat kronik dan rekuren, sehingga penanganan nyeri bertujuan untuk mengontrol gejala, memperbaiki kualitas hidup, dan mencegah progresivitas penyakit, bukan untuk menyembuhkan sepenuhnya.
Pilihan terapi disesuaikan dengan usia, keparahan gejala, riwayat terapi sebelumnya, efek samping obat, tujuan reproduksi, serta preferensi pasien melalui pendekatan shared decision-making. Dengan mempertimbangkan bahwa nyeri bersifat multifaktorial, maka pendekatan multimodal, terintegrasi, dan berkelanjutan direkomendasikan untuk mencapai kontrol gejala secara optimal.
Terapi hormon digunakan karena endometriosis merupakan kondisi yang bergantung pada hormon steroid, terutama estrogen. Tujuan dari terapi ini adalah mengubah lingkungan hormonal tubuh sehingga pertumbuhan lesi endometriosis dapat ditekan dan gejala, terutama nyeri, dapat berkurang.
Pilihan terapi hormon yang umum digunakan meliputi progesteron ( dienogest/ Depo Medroksi Progestin acetat( DMPA)) anti-progestin, kontrasepsi kombinasi oral, agonis dan antagonis GnRH, levonorgestrel-releasing intrauterine system (LNG-IUS), danazol dan aromatase inhibitor
Terapi bedah memiliki peran penting dalam penatalaksanaan endometriosis, terutama pada pasien dengan nyeri yang tidak terkontrol dengan obat hormonal/ analgetik atau yang mengalami infertilitas akibat perubahan anatomi pelvis. Prinsip utama pembedahan adalah menghilangkan lesi endometriosis, melepaskan perlekatan, serta mengembalikan anatomi pelvis yang normal.
Dulu prosedur ini melalui laparotomi, tetapi kini laparoskopi direkomendasikan karena memberikan visualisasi lebih baik, trauma jaringan lebih minimal, pemulihan lebih cepat, dan komplikasi lebih rendah.
Efektivitas pembedahan laparoskopik dalam penatalaksanaan endometriosis telah membuktikan bahwa terapi bedah secara signifikan meningkatkan quality of life (QoL), indeks psikologis, dan fungsi seksual karena meringankan gejala nyeri. Laparoskopi lebih disukai dibandingkan laparotomi karena nyeri post operasi lebih ringan, masa rawat dan pemulihan lebih singkat, dan hasil kosmetik lebih baik.

Sering digunakan terutama saat pengobatan atau pembedahan belum memberikan hasil yang memuaskan. Survei di Swiss, Austria, dan Jerman menunjukkan bahwa 62,5% pasien menggunakan terapi komplementer dan alternatif. Self-management dilakukan oleh >70% pasien seperti kompres hangat, perubahan pola makan, meditasi, teknik pernapasan, alkohol, dan obat bebas.
Guideline sebelumnya belum merekomendasikan terapi non-medis karena minimnya data, tetapi penelitian baru mengenai akupunktur, fisioterapi, psikoterapi, electrotherapy, olahraga, nutrisi, dan Traditional Chinese Medicine (TCM) kini semakin berkembang.
Terapi komplementer yang umum digunakan dalam TCM, sedangkan dalam praktik medis Barat dianggap sebagai bagian dari complementary and alternative medicine (CAM).
Belum ada bukti cukup kuat untuk merekomendasikan akupunktur sebagai terapi rutin. Data penelitian menunjukkan bahwa akupuntur dapat menurunkan nyeri dan memperbaiki kesejahteraan psikologis. Secara keseluruhan, terapi ini tampak aman dengan efek samping minimal
Fisioterapi, Pijat, dan Trigger Point Release Therapy
Latihan fisik memiliki banyak manfaat kesehatan umum dan berperan dalam program manajemen nyeri, tetapi bukti spesifik pada endometriosis masih terbatas.
Bukti ilmiah mengenai efektivitas intervensi psikologis (misalnya mindfulness, self-care counselling, psikoterapi suportif-ekspresif, dan somatosensori stimulasi) pada pasien dengan gejala terkait endometriosis masih terbatas dan tidak konklusif.
Peran nutrisi dalam endometriosis masih banyak diperdebatkan karena makanan dapat mempengaruhi proses inflamasi, metabolisme prostaglandin, dan aktivitas estrogen. Bukti mengenai intervensi nutrisi untuk endometriosis masih sangat terbatas dan kualitas penelitiannya rendah sehingga belum ada pedoman diet khusus yang dapat direkomendasikan.
Studi terkait pola makan menunjukkan bahwa perempuan dengan endometriosis memiliki perbedaan asupan nutrisi serta intoleransi makanan, alergi, dan gejala gastrointestinal.
Beberapa pasien melaporkan perbaikan gejala setelah melakukan perubahan diet. Banyak pasien memilih menghindari gluten dan produk susu, serta meningkatkan konsumsi buah, sayur, karbohidrat kompleks, dan ikan. Sebagian besar melaporkan penurunan nyeri dan kelelahan serta merasa lebih memahami respons tubuh mereka, tetapi tetap memerlukan pendampingan nutrisi profesional.
Hingga saat ini belum ada cukup bukti untuk merekomendasikan penggunaan TCM sebagai terapi untuk mengurangi nyeri atau meningkatkan kualitas hidup endometriosis.
Dalam TCM endometriosis dikategorikan sebagai sindrom stasis darah, dan beberapa formulasi herbal, termasuk Gui Fu Pai San (GFP) telah digunakan untuk meredakan gejala. Penelitian farmakologi dan studi hewan menunjukkan bahwa komponen GFPs memiliki efek anti-inflamasi, analgesik, antitumor, serta dapat memperbaiki hemodinamika.
Infertilitas merupakan salah satu masalah utama pada wanita dengan endometriosis, selain nyeri pelvis kronis. Dalam penilaian bukti ilmiah, outcome yang dievaluasi mencakup angka kelahiran hidup, angka kehamilan (biokimia atau klinis), kehamilan ganda, keguguran, kehamilan ektopik, efek teratogenik, serta efek samping terapi. Intervensi pada infertilitas bertujuan meningkatkan peluang kehamilan spontan, termasuk terapi medis, pembedahan, dan pendekatan non-farmakologis.
Endometrioma sering menimbulkan dilema klinis terutama pada pasien yang sedang menjalani terapi fertilitas. Keputusan antara melakukan tindakan operatif atau manajemen konservatif harus mempertimbangkan potensi efek merugikan dari operasi terhadap cadangan ovarium, yang dapat terlihat melalui penurunan kadar hormon anti-müllerian (AMH), antral follicle count (AFC), dan hasil oosit.
Operasi juga dapat memberikan manfaat, seperti perbaikan gejala yang mendukung konsepsi alami atau peningkatan akses folikuler selama prosedur assisted reproductive techniques (ART). Parameter cadangan ovarium tidak secara langsung mencerminkan peluang konsepsi alami, melainkan memberikan informasi mengenai respons pasien terhadap stimulasi hormon ovarium dalam teknologi reproduksi berbantu, termasuk insemonation Intrauterine atau in vitro fertilization (IVF).
Referensi: