
Bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) menjadi salah satu pilihan perawatan infertilitas untuk membantu pasangan mendapat keturunan. Namun, di balik prosedur yang terbilang aman dan cerita keberhasilannya, ternyata program bayi tabung dapat berisiko.
Lantas, apa saja risiko bayi tabung? Simak ulasannya berikut ini.
Baca juga: Apa Itu Bayi Tabung? Ini Prosesnya dari Awal Sampai Akhir
Setiap tindakan medis pasti memiliki risiko tersendiri, tak terkecuali program bayi tabung atau IVF. Sebelum memutuskan untuk mulai menjalani In Vitro Fertilization, ada baiknya Anda dan pasangan mengetahui kemungkinan risiko yang terjadi dan mendiskusikannya lebih lanjut dengan dokter.
Berikut ini beberapa risko bayi tabung yang perlu jadi pertimbangan:
Keguguran di trimester pertama atau kedua bisa saja terjadi pada proses kehamilan dengan prosedur bayi tabung. Risiko keguguran ini lebih tinggi pada wanita di usia 40 tahun ke atas.
Meski terbilang jarang, salah satu kekurangan bayi tabung yang perlu dipertimbangkan adalah Sindrom Hiperstimulasi Ovarium akibat penggunaan obat kesuburan.
OHSS bisa saja terjadi karena obat kesuburan yang digunakan selama proses IVF meningkatkan produksi sel telur sehingga ovarium membengkak. Ini bisa menimbulkan nyeri hingga pembengkakan perut.
Pada kondisi lebih parah, OHSS bahkan bisa menyebabkan kesulitan bernapas hingga pembekuan darah.
Hamil kembar atau lebih mungkin terjadi ketika embrio yang dipindahkan ke rahim lebih dari satu.
Hamil kembar ni bisa meningkatkan risiko gangguan selama kehamilan, seperti diabetes gestasional dan tekanan darah tinggi selama kehamilan.
Untuk itu, beberapa ahli menyarankan untuk mentransfer hanya satu embrio dalam siklus IVF pertama untuk menurunkan risiko tersebut.
Melansir Yale Medicine, IVF juga bisa meningkatkan risiko gangguan kehamilan seperti plasenta previa dan abrupsio plasenta.
Plasenta previa adalah kondisi ketika plasenta sebagian atau seluruhnya menutupi jalan lahir. Sementara abrupsio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum waktu kelahiran.
Kehamilan ektopik terjadi ketika embrio menempel di luar rahim, biasanya di tuba fallopi. Ini menyebabkan embrio tidak bisa berkembang, bahkan bisa menyebabkan tuba fallopi pecah hingga mengancam jiwa.
dr. Arie Polim, Sp.OG (K) FER. juga menjelaskan bahwa salah satu risiko dalam menjalani proses bayi tabung adalah kemungkinan perdarahan pada wanita yang memiliki sel telur lebih banyak, terutama di atas 15 folikel.
Risiko perdarahan bisa terjadi karena dengan folikel yang lebih banyak sehingga memungkinkan lebih banyak tusukan yang dilakukan saat pengambilan sel telur.
Stres menjadi salah satu risiko bayi tabung yang mungkin luput dari perhatian, tapi sangat penting dan perlu penanganan serius.
Penantian akan hadirnya keturunan, proses yang memakan waktu, biaya tinggi, ketidakpastian, dan kekhawatiran di setiap tahapnya pasti sangat membebani Anda dan pasangan.
Stres maupun gangguan emosional sangat mungkin terjadi selama Anda menjalani prosedur IVF.
Cobalah terbuka dan ungkapkan perasaan maupun kekhawatiran Anda kepada dokter untuk mendapat solusi terbaik.
Carilah dukungan atau support system yang bisa membantu Anda rileks dan membangkitkan semangat, seperti pasangan, keluarga, teman, atau support group sesama pejuang IVF.
Kemungkinan kelahiran prematur maupun Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) juga menjadi dampak negatif bayi tabung yang perlu Anda diskusikan lebih lanjut dengan dokter.
Beberapa penelitian yang dikutip Mayo Clinic menyebutkan bahwa proses IVF meningkatkan risiko bayi lahir prematur atau dengan berat badan rendah saat lahir.
Tahapan metode bayi tabung dan obat yang digunakan selama prosesnya bisa menimbulkan efek samping yang berbeda bagi tiap orang.
Beberapa wanita yang menjalani bayi tabung mungkin akan merasakan beberapa gejala berikut ini:
Sementara itu, penggunaan beberapa obat selama proses IVF juga mungkin menimbulkan efek samping, seperti:
Jika mengalami salah satu dari gejala efek samping IVF di atas, segera konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Baca juga: Tingkatkan Keberhasilan, Lakukan Persiapan Ini Sebelum Program Bayi Tabung (IVF)
Itulah beberapa risiko program bayi tabung yang perlu Anda dan pasangan ketahui sebelum mulai menjalankan IVF. Berkonsultasi dengan dokter terkait hal-hal yang mungkin terjadi dan meminta saran solusi terbaik bisa membuat Anda merasa aman dan nyaman dalam menjalankan setiap prosesnya.
IVF atau program bayi tabung bukan prosedur yang singkat dan murah, serta melibatkan fisik dan mental Anda dan pasangan. Pastikan Anda mendapatkan informasi dan penanganan yang jelas dan tepat untuk meningkatkan keberhasilan. Masih ada pertanyaan seputar infertilitas maupun kehamilan? Jangan ragu berkonsultasi dengan dr. Arie Polim, Sp.OG. di sini.
Mayo Clinic. 2023. In Vitro Fertilization (IVF). https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/in-vitro-fertilization/about/pac-20384716. Diakses pada 26 Maret 2026.
WebMD. 2024. In Vitro Fertilization (IVF). https://www.webmd.com/infertility-and-reproduction/in-vitro-fertilization. Diakses pada 7 April 2026.
Yale Medicine. In Vitro Fertilization (IVF).https://www.yalemedicine.org/conditions/ivf. Diakses pada 7 April 2026.