

Kehamilan ektopik terjadi apabila janin berkembang di luar rahim. Setelah terjadi pembuahan, zigot hasil penggabungan sel sperma dan ovum menempel di jaringan selain dinding rahim dan menetap serta berkembang di jaringan tersebut. Perkembangan janin ini bisa terjadi di tuba fallopi, kanal serviks, pelvis atau rongga abdomen. Kehamilan ektopik dapat terjadi pada 7 dari 1000 kehamilan.
Penyebabnya kehamilan ektopik umumnya karena jalur tuba fallopi yang tertutup akibat adanya infeksi, sehingga bagian tersebut terjadi penyempitan. Atau, adanya luka akibat operasi pada saluran telur. Bekas luka operasi ini bisa membuat saluran telur lengket atau menutup. Kehamilandi luar rahim ini juga disebabkan adanya endometriosis (jaringan yang mirip lapisan rahim yang ada di luar rahim) atau karena adanya kelainan bentuk dari saluran, misalnya sejak awal aluran terpelintir atau ada infeksi yang terjadi di vagina dan mempengaruhi kualitas sel sperma dan ovum sehingga ada kemungkinan saat pembuahan, zigot tidak dapat mencapai rahim.
Perdarahan dari vagina pada trimester pertama adalah salah satu gejala yang bisa terjadi pada kehamilandi luar rahim (ektopik)akibat robekan pada dinding saluran telur yang tipis akibat didesak oleh perkembangan janin. Jika ini terjadi, sang ibu dalam keadaan gawat darurat. Untuk mengatasinya, perlu dilakukan operasi untuk menghentikan pendarahan. Gejala lain adalah berhentinya haid. Namun, yang bisa menjadi pembeda adalah timbulnyan rasa nyeri yang tajam dan sulit hilang. Nyeri ini akibat desak-desakan di saluran telur dan sekitarnya. Saluran telur yang sempit ini membuat janin gagal tumbuh normal.
Apalagi organ-organ di sekitar saluran telur yang ikut terdesak, memicu rasa nyeri. Sekitar panggul dan perut biasanya menjadi daerah yang diserang rasa nyeri ini akibat peritonium (lapisan dalam perut) oleh pendarahan. Gangguan saluran pencernaan juga kerap muncul dibarengi kepala pusing dan penglihatan kunang-kunang. Kehamilan ektopik kemungkinan besar dialami oleh: